Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryApr 2, '07 6:41 AM
for everyone
Kesehatan hewan

Flu burung merajalela beberapa tahun belakangan ini di bumi Indonesia. Dunia yang berkaitan dengan kesehatan hewan langsung mencuat di media massa. Hanya karena satu hal, penyakit mematikan  yang berasal dari hewan unggas ini bisa menular ke manusia. Atau yang di kenal dengan sebutan penyakit zoonosis. Sebelum-sebelumnya mungkin tidak ada yang peduli akan kesehatan hewan di negeri ini. Padahal penyakit zoonosis itu tidak hanya flu burung. Ada anthrax, rabies, sapi gila dan masih banyak lagi.

Sedangkan penyakit hewan yang tidak zoonosis sendiri juga begitu banyaknya. Dari data OIE (Office of International Epizootics, organisasi internasional yang berkutat tentang masalah kesehatan hewan),  Indonesia tercatat memiliki tiga hingga empat record dari beberapa penyakit hewan golongan A. Belum penyakit golongan yang lain-lain. Dari sini seakan-akan terlihat bahwa ada kesan kesadaran akan kesehatan hewan bukanlah hal yang penting di Indonesia hingga suatu waktu terjadilah kebobolan seperti flu burung. Kenapa bisa begitu??

Kalau kita bicara tentang kesehatan hewan, berarti kita juga berbicara kesejahteraan hewan. Di luar negeri dewasa ini, kesejahteraan hewan dikenal dengan sebutan animal welfare. Animal welfare versi WSPA (World Society for the Protection of Animal) menyebutkan bahwa ada 5 kebebasan pada hewan:
1.  Bebas dari rasa lapar dan haus
2. Bebas dari rasa sakit, cidera, dan penyakit
3. Bebas dari rasa  ketidaknyamanan
4. Bebas dari rasa ketakutan dan stress
5. Bebas mengekspresikan tingkah laku normalnya.

Bagi orang awam hal ini mungkin sangatlah tidak penting dan tidak perlu. Tapi dari ketidakpentingan dan ketidakperluan tersebut bisa saja muncul ancaman semacam flu burung atau yang lainnya. Di luar negeri saja yang sudah concern akan hal ini masih kebobolan kasus flu burung, apalagi Indonesia. Atau mungkin ada suatu anggapan di Indonesia bahwa buat apa kita perduli pada semua ini, toh pada akhirnya tetap saja akan kejadian juga.

Bagaimana dengan pemerintah?
Sejauh ini kesehatan hewan terlembaga pada Dirjen Peternakan dan di bawah  Departemen  pertanian. Sudah cukupkah ini? Saya rasa belum. Mengingat bahwa yang seharusnya paling mengerti kesehatan hewan adalah para dokter hewan. Tetapi Dirjen Peternakan sudah pasti tidak hanya mengurusi kesehatan hewan melulu. Selain itu orang yang mengisi Dirjen tersebut sudah pasti bukan dokter hewan semuanya. Dengan kondisi seperti ini, sudah jelas Dirjen Peternakan kekurangan SDM di lapangan dalam rangka menanggulangi kasus-kasus seperti flu burung. Sampai-sampai menggunakan SDM dari disiplin ilmu yang lain. Dan jika kita melihat langsung ke menteri pertaniannnya sendiri belum tentu mengerti tentang hal ini. Selain itu, perwakilan OIE dari Indonesia sendiri secara kelembagaan memang berkaitan. Tetapi pemilihan orangnya ternyata tidak tepat, karena orang yang dipilh sebagai perwakilan OIE bukanlah seorang dokter hewan. Secara fakta di lapangan, banyak orang yang akan berpendapat sama bahwa kesehatan hewan tidak cukup terwujud hanya dengan terlembaga dalam Dirjen peternakan .

Kesehatan hewan yang merupakan symbol dari kedokteran hewan di Indonesia mungkin tidak sepenting dengan kesehatan manusia yang merupakan symbol dari kedokteran manusia. Tetapi kedokteran hewan sendiri mempunyai prinsip mriga satwa sewaka yang artinya mensejahterakan manusia melalui hewan. Kesehatan manusia sendiri sudah mempunyai kelembagaan yang jelas yaitu Departemen Kesehatan dengan Menkesnya. Itupun masih sering terjadi masalah yang tak kunjung terpecahkan. Sebut saja wabah DBD, mencuatnya kembali polio dan gizi buruk hingga muncul pula wabah chikunguya. Lain halnya dengan kesehatan hewan yang tidak jelas secara kelembagaan.

Sehingga tidak jelas pula prakteknya di lapangan. Dengan adanya perbandingan ini, keluarlah usul-usil tapi juga bisa dipertanggungjawabkan. Yaitu membuat suatu kelembagaan di bawah pemerintah yang mengurus khusus tentang kesehatan hewan. Bunyinya bisa saja Depkeswan,  dengan Menkeswannnya pula. Kalau Departemen kelautan dan Perikanan saja ada, kenapa departemen kesehatan hewan tidak? Dari sini, saya bisa meramalkan bahwa dengan adanya departemen ini, kesehatan hewan bisa lebih maju. Dan pada akhirnya kebobolan-kebobolan seperti flu burung bisa dicegah. Selain itu dengan sendirinya akan makin banyak para dokter hewan yang mau mengabdi pada Negara, sehingga kita tidak akan kekurangan SDM pada bidang ini.  
Bagaimana bapak pemerintah?

Dengan adanya ini, kasus-kasus seperti flu burung atau yang lainnya yang berhubungan dengan aspek kesehatan masyarakat veteriner bisa di atasi dengan lebih baik. Apalagi kalau kita berbicara tentang zoonosis, maka kita juga akan berbicara tentang grey area antara bidang kesehatan hewan dan manusia. Sehingga perlu berembug bersama dan memecahkan masalah sesuai dengan bidang masing-masing. Karena terkadang menyedihkan juga kalau saya melihat pemberitaan tentang flu burung di media baik cetak dan elektronik selalu saja mendatangkan narasumber dari satu pihak. Dan itupun cenderung menjurus ke kesehatan manusianya. Padahal belum tentu dari satu pihak itu mengerti semua hal tentang flu burung. Sehingga mungkin nanti pada akhirnya bisa mendatangkan isu-isu baru yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Idealnya ya, mendatangkan dua pihak yang sama-sama mengerti akan masalah ini.     

Perlukah dibuat kelembagaan yang jelas untuk kesehatan hewan?Sangat perlu sekali.
Karena jika tidak, ketidakjelasan akan selalu timbul pada kasus-kasus tertentu seperti flu burung. Dan ketidakjelasan ini bisa memicu hal-hal lain yang merugikan masyarakat karena saking rentannya untuk dipolitisir oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Tapi mungkin akan ada anggapan seperti ini lagi, “buat apa repot-repot bikin  lembaga pemerintah khusus tentang kesehatan hewan, wong yang kaya depkes aja masih bermasalah…pada akhirnya ya sama aja toh??”  


0 Comments
Add a Comment